Jumat, 01 November 2013

DOKTER MENJADI SEORANG JURNALIS? KENAPA TIDAK?

Jurnalistik, mungkin kata-kata ini hanya terbayang ketika kita melihat sebuah berita yang disiarkan oleh pembawa berita, dengan kesan yang sangat kental dengan profesinya sebagai reporter, tetapi siapa sangka bahwa kita mahasiswa kedokteran juga belajar cara menjadi seorang junalistik tidak akan terbayangkan akan seperti apa nantinya bila seseorang dengan profesi dokter juga sebagai seorang reporter. Pengalaman seperti itulah yang di alami para pendelegasi dari penjuru seluruh Indonesia salah satunya kita dari delegasi FKIK UMY pada “Pelatihan Jurnalistik Nasional 2013” di Bandung tepatnya di UNJANI. Pelatihan Jurnalistik Nasional singkatannya PJN menambah wawasan kita tentang bagaimana peran dari mahasiswa kedokteran Indonesia pada bidang jurnalistik, salah satu pengalaman yang luar biasa di luar pengalaman sehari-hari yang kita dapatkan sebagai seorang dokter. PJN ini mengajarkan pada kita bagaimana kejurnalistikan berperan dalam mengembangkan soft skill kita nantinya, karena akan melatihan cara kita berkomunikasi, melatih kepekaan kita, dan melatih cara berpikir kita untuk lebih kritis.

Tentu saja pelatihan ini di isi dengan berbagai materi yang begitu padat. Kepadatan itu diimbangi dengan materi yang sangat menarik-menarik dari pada jurnalis yang sudah profesional pada bidang jurnalistik itu sendiri. Salah satunya kita melakukan study tour ke sebuah percetakan koran yang ada di bandung yaitu Pikiran Rakyat (bisa di bilang KRnya Bandung) kita melihat bagaimana sebuah proses pengolahan berita itu tercipta, darinya sebuah berita yang didapatkan oleh para reporter dan berakhir sampai ke tangan  kita untuk kita baca setiap hari. Selain dari para jurnalis yang handal-handal, kami para delegasi juga mengikuti Seminar Nasional “creative writting dan urgensi pers mahasiswa kedokteran Indonesia dari materi creative writting diisi oleh salah satu penulis best seller novel “Negri 5 menara” Ahmad Fuadi. Workshop juga kami lakukan dari semua materi yang kita dapatkan dan menerapkannya di lapangan dengan mencari berbagai berita yang ada di daerah cihampelas bandung.

Dari semua materi yang didapatkan tidak akan terasa lebih menyenangkan lagi dengan adanya  farewell yang begitu meriah yang di Saung Udjo. Semua materi tidak ada artinya bila kita tidak bisa menerapkan segala pengetahuan yang kita dapatkan sebagai dari delegasi PJN, karena melalui jurnalistik kehidupan akan selalu di warnai oleh cerita.




Senin, 28 Oktober 2013

Road To GIMSCO

GIMSCO atau singkatan dari Gadjah Mada Indonesian Medical Science Olympiad adalah sebuah olimpiade anatomi nasional yang diadakan oleh FK UGM dengan tema “Ars Longus Vita Brevis” yang akan diadakan pada 5 s/d 8 Desember 2013 mendatang. Pada hari ini Divisi Penpro (Pedidikan dan Profesi) HMPD SEMAKU bekerjasama dengan team laboratorium Anatomi mengadakan seleksi Road To GIMSCO untuk menetapkan siapa yang nantinya akan mewakili Pendidikan Dokter FKIK UMY sebagai delegasi GIMSCO.

Seleksi ini berguna untuk memfasilitasi mahasiswa PSPD angkatan 2012, 2011, dan 2010. Banyaknya minat yang tinggi dari mahasiswa PSPD UMY untuk mengikuti GIMSCO, maka kami selaku panitia penyelenggara seleksi GIMSCO menetapkan hanya 4 peserta yang kemudian digabung menjadi 2 team dengan perolehan nilai tertinggi berdasar seleksi dari 20 soal slide berjalan dalam waktu 15 detik serta 10 soal identifikasi preparat yang akan diberangkatkan untuk mewakili Pendidikan Dokter FKIK UMY di olimpiade Nasional ini. Dua team tersebut adalah:
  1. Ardico Irfantian (20110310226) berkolaborasi dengan Riana Marcella (20120310239)
  2. Nurul Attikah Zain (20100310120) berkolaborasi dengan Manarul Ulfah (20110310169)
Selamat bagi 2 team yang telah lolos seleksi Road To GIMSCO, semoga ke depannya 2 team delegasi tersebut dapat lolos dan mendapatkan juara di ajang Nasional ini Gadjah Mada Indonesian Medical Science Olympiad. 










Minggu, 27 Oktober 2013

Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran dan Implementasi Exit Exam dalam Penetapan Kuota Penerimaan Mahasiswa Baru: Djoko Santoso, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi

Forum Dekan IPD, 19 Januari 2013
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Tujuan Dasar Uji Kompetensi Dokter
  1. Uji kompetensi ditujukan untuk menjamin lulusan pendidikan tinggi kedokteran yang kompeten dan terstandar secara nasional
  2. Uji kompetensi untuk menguji sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai dasar untuk praktik kedokteran dan dalam jangka panjang  mendorong pembelajaran sepanjang hayat
  3. Uji kompetensi sebagai metode asesmen untuk memastikan pengelolaan pasien yang aman dan efektif * 
* Ke depannya, hasil UKDI akan diumumkan secara transparan melalui website UKDI 


Peta Jalan Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI
)




KEBIJAKAN DITJEN DIKTI : UKDI sebagai Exit Exam
SE No. 88/E/DT/2013, 1 Februari 2013
1.      Bidang Kedokteran memerlukan uji kompetensi dengan standar nasional sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu yang bertujuan pada penjaminan keselamatan pasien.
2.      Untuk itu, uji kompetensi memerlukan metode yang tepat dalam menguji knowledge, skills dan attitude, melalui CBT dan OSCE
3.      Uji kompetensi dilaksanakan pada tahap akhir pendidikan profesi sebagai exit exam, dengan mempertimbangkan :
v  Pentingnya academic professional environment
v  Peran uji kompetensi sebagai feedback mutu proses pembelajaran
v  Mendukung integrasi sistem pendidikan-pelayanan
4.      Oleh karena itu, pembiayaan uji kompetensi masuk dalam pembiayaan pendidikan


Pemetaan Data FK
      Status Akreditasi
      Hasil UKDI
      Jumlah Mahasiswa & Dosen
      Rasio Dosen : Mahasiswa
Rujukan :
      Rasio = perbandingan dosen dan mahasiswa
      Rasio Ideal tahap akademik = 1:10 = 0,1 (sesuai Standar Pendidikan Dokter Indonesia 2012)
Sumber Data :
      Data FK : Data PDPT (evaluasi.dikti.go.id) & Data Primer 2012-2013





Kebijakan Ditjen Dikti tentang Pengaturan Kuota Mahasiswa FK
Dasar Pertimbangan
1.      Pendidikan kedokteran adalah pendidikan formal yang terdiri atas tahap pendidikan akademik dan pendidikan profesi yang tidak terpisahkan, pada jenjang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh fakultas atau program studi kedokteran yang terakreditasi untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi di bidang kedokteran.
2.      Berdasarkan hasil bimbingan teknis yang dilakukan oleh tim KKI, didapatkan fakta ketidaktaatan dalam implementasi standar, terutama yang terkait dengan :
     rasio dosen dan mahasiswa
     kuota mahasiswa terhadap daya tampung
     hasil uji kompetensi di bawah rata-rata nasional,
     belum memenuhinya sarana dan prasarana pendidikan tahap profesi

Kebijakan Ditjen Dikti
Agar PT mengimplementasikan standar pendidikan dokter, diperlukan pengaturan lebih lanjut khususnya perihal kuota penerimaan mahasiswa baru pada Program Studi Kedokteran :

(1)   Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan kedokteran harus memiliki rumah sakit dan akses ke rumah sakit pendidikan.

(2)   Kuota maksimum pendidikan kedokteran merupakan jumlah mahasiswa terbanyak yang ditentukan oleh Pemerintah pada masing-masing perguruan tinggi dan institusi yang menyelenggarakan pendidikan kedokteran.

(3)   Pengaturan jumlah kuota mahasiswa maksimum berdasarkan hasil akreditasi FK
Akreditasi FK
Jumlah Kuota Maksimum
A
200 mahasiswa
B
100 mahasiswa
C
50 mahasiswa

(4) Kuota pendidikan kedokteran yang diberikan kepada perguruan tinggi yang memiliki Prodi pendidikan kedokteran sebagaimana diatur pada butir 3 ditentukan oleh jumlah mahasiswa yang lulus UKDI


Prosentase Kelulusan UKDI Tahun Sebelumnya
Jumlah Kuota Maksimum
100%
100% dari kuota maksimum
90% ≤ X < 100%
90% dari kuota maksimum
80% ≤ X < 90%
80% dari kuota maksimum
70% ≤ X < 80%
70% dari kuota maksimum
60% ≤ X < 70%
60% dari kuota maksimum
50% ≤ X < 60%
50% dari kuota maksimum
< 50%
0

(5) Bagi perguruan tinggi yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tersebut diatas, akan mendapatkan sanksi dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

(6)   Sebagai konsekuensi dari ketentuan ini, maka jumlah mahasiswa yang diterima masuk ke Program Studi Kedoteran akan menurun, sehingga dapat dibuka beberapa Program Studi baru di beberapa perguruan tinggi yang memenuhi syarat dan telah mengusulkan.

(7)   Jumlah mahasiswa kedokteran yang terbatas di perguruan tinggi difahami dapat mempermudah penjaminan mutu lulusan di setiap perguruan tinggi dan mendorong peningkatan mutu secara berkelanjutan.

Rencana Tindak Lanjut
      Kebijakan berlaku mulai tahun ajaran baru 2013/2014
      Saat ini Ditjen Dikti sedang melakukan kajian analisis trend kelulusan mahasiswa sebagai dampak implementasi kebijakan ini


Kebijakan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan dapat Diaktualisasikan dengan Baik jika terdapat Kesadaran & Kedisiplinan untuk Memenuhi Aturan & Standar 

Senin, 21 Oktober 2013

There is No Hunger, Memberi Pelajaran Tentang Sebuah Rasa Syukur

Minggu, 20 Oktober 2013 adalah hari di mana pertama kalinya HMPD Semaku  melaksanakan Program Kerja ‘percobaannya’. Program ini kami beri nama ‘There is No Hunger’.
            Apa sih ‘There is No Hunger’ itu?
            Acara ini mengambil konsep di mana kita; HMPD Semaku yang dikoordinatori oleh divisi PENGMAS; mengelilingi kota Yogjakarta sekedar untuk membagikan makanan. Sederhana, tapi Insyaallah akan sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan.  Selain itu, banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dari kegiatan se-sederhana ini. Apa aja sih?
            Di lapangan, kita melihat fakta bahwa sebenarnya, banyak sekali bagian dari mereka yang membutuhkan bantuan kita (perlu di-garisbawahi bahwa sasaran kita bukan lah pengemis, melainkan mereka yang  bekerja tapi terlihat membutuhkan bantuan; seperti: tukang koran, pemulung, dll). Bantuan yang kita beri memang hanya sederhana; nasi bungkus dan aqua. Tapi pernahkah kalian membayangkan bagaimana bahagianya mereka yang terlihat dari doa yang mereka beri pada kami?
            “Mbak, semoga dilancarkan rizkinya ya.”
Wah, terimakasih banyak ya mas, kami memang belum makan. Pokoknya terimakasih sekali ya”
“Terimakasih ya mbak, sudah mau peduli dengan orang-orang seperti kami. Sungguh kami mendoakan matinya mbak menjadi mati yang khusnul khotimah.”
            Bahkan di antara mereka ada yang menangis dan mengucap Alhamdulillah entah berapa kali dalam se menit. Bagaimana dengan kita? Kapan terakhir kali kita bilang Alhamdulillah? Bahkan setelah Allah selalu memberi kita rasa kenyang dan lapar tepat pada waktunya.
           
“Cuaca Yogyakarta sedang panas-panasnya; saat Tuhan sedang baik-baiknya.”