Jumat, 03 Maret 2017
Jumat, 10 Februari 2017
Data Kelompok Peserta dan Tata Tertib Peserta Tour De FKIK "CHLAMYDIA" 2017
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Gimana kabar kalian semua sehat kan?
Udah tidak sabar ya menunggu Minggu, 12 Februari 2017? Panitia juga udah tidak sabar lho :)
Ada sedikit pengumuman nih untuk kalian semua peserta Tour De FKIK 2017.
KELOMPOK TUTORIAL
Jadi seluruh peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok selama kegiatan tutorial berlangsung,. Adapun daftar kelompok peserta dapat dilihat pada file yang tertera pada link di bawah ini. Pastikan namamu tertera dalam data tersebut ya.
CLICK: http://bit.ly/KelompokTDF
- Dapat berupa peringatan secara lisan
- Menyita barang yang diketahui melanggar peraturan TDF 2017
- Tidak boleh mengikuti rangkain acara TDF berikutnya
Sabtu, 04 Februari 2017
Kanker Semakin Mengancam, Waspadalah!
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak didunia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan berdasarkan data Susenas 2014 dan 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 254.900.000 jiwa. Angka tersebut tentu bukan angka sembarangan dan bahkan menjadi tantangan bagi kita mengingat negara kita mempunyai visi untuk mewujudkan Indonesia sehat 2020. Berbicara tentang hal kesehatan, dewasa ini di Indonesia terdapat beberapa masalah kesehatan penduduk yang masih perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dari semua pihak, antara lain yaitu tingginya penderita penyakit kanker.
Menurut data Riskesdas 2013, pravelensi penyakit kanker di Indonesia secara keseluruhan mencapai 330.000 orang atau jika diprosentasekan menjadi 1,4%. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tempat dengan jumlah prosentase penderita penyakit kanker terbesar di Indonesia, yakni 0,41%.
Kemudian diikuti dengan provinsi Jawa Tengah (0,21%), Bali (0,2%), serta DKI Jakarta dan Bengkulu dengan masing masing prosentase 0.19%. Balitbang Kemenkes juga merilis data yang tak jauh berbeda angkanya. Di tahun 2013, Balitbang Kemenkes memperkirakan jumlah penderita penyakit kanker di Indonesia mencapai 347.792 orang.
Tidak hanya di Indonesia, Penyakit kanker ternyata juga merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2012, sekitar 8,2 juta kematian disebabkan oleh penyakit kanker. Lebih dari 30% dari kematian akibat penyakit kanker disebabkan oleh lima faktor risiko perilaku dan pola makan, yaitu: (1) Indeks massa tubuh tinggi, (2) Kurang konsumsi buah dan sayur, (3) Kurang aktivitas fisik, (4) Penggunaan rokok, dan (5) Konsumsi alkohol berlebihan.
Menurut Trachootham, 2006, penyakit kanker biasanya mucul dengan karakteristik adanya gangguan atau kegagalan mekanisme pengaturan multiplikasi pada organisme multiseluler sehingga terjadi perubahan perilaku sel yang tidak terkontrol. Perubahan tersebut disebabkan adanya perubahan atau transformasi genetik, terutama pada gen-gen yang mengatur pertumbuhan, yaitu protoonkogen dan gen penekan tumor.
Sel-sel yang mengalami transformasi terus-menerus berproliferasi dan menekan pertumbuhan sel normal.
Penyakit kanker juga ditandai dengan adanya sel/jaringan abnormal yang bersifat ganas, tumbuh cepat tidak terkendali serta dapat menyebar ke tempat lain dalam tubuh penderita sehingga merusak fungsi jaringan tersebut. Penyebaran (metastasis) sel kanker dapat melalui pembuluh darah maupun pembuluh getah bening. Sel penyakit kanker dapat berasal dari semua unsur yang membentuk suatu organ, dalam perjalanan selanjutnya tumbuh dan menggandakan diri sehingga membentuk massa tumor.
Sebenarnya, penyakit kanker dapat dicegah dengan menghindari penyebab dan faktor risiko serta berperilaku hidup sehat. Cara hidup sehat yang dapat menurunkan risiko kanker diantaranya adalah mengurangi makan makanan berlemak, diet seimbang dan olahraga teratur, mengurangi makan makanan yang diawetkan, membatasi minum minuman mengandung alkohol, lebih banyak makan makanan berserat, lebih banyak makan makanan yang segar, hindari kebiasaan merokok, olahraga teratur (4x/minggu, 30-60 menit), upayakan hindari stres dengan bersantai bersama keluarga dan melakukan hobi. Selain itu, penyakit kanker juga dapat dicegah dengan periksakan kesehatan secara teratur, diantaranya vaksinasi (vaksinasi untuk Hepatitis dan HPV), deteksi dini kanker, serta ketrampilan untuk memeriksa diri sendiri seperti: SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Penyakit kanker akan mudah diobati jika ditemukan dalam stadium dini sehingga harus dicegah sebagai upaya agar tidak masuk ke dalam fase lanjut yang lebih parah dan membutuhkan perwatan yang lebih sulit. Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati.
Rabu, 25 Januari 2017
Polemik Status Gizi Buruk di Indonesia
Gizi merupakan suatu hal yang penting dalam menjaga keberlangsungan hidup generasi suatu bangsa. Dimana faktor penentu baik buruknya berasal dari berbagai sektor yang ada. Mulai dari pelayanan kesehatan, keseimbangan ekonomi, politik dan sosial termasuk di dalamnya bencana alam.
Status Gizi suatu bangsa dapat dinilai salah satunya dari angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Di indonesia sendiri pada tahun 2003 berada pada urutan ke 112 dari 174 negara dan pada tahun 2015 ini menduduki posisi 110 dari 187 negara. Dari hasil ini dapat kita lihat bersama bahwa telah terjadi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia meskipun tidak begitu drastis. Namun jika pemerintah terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas dari masyarakatnya dengan menurunkan kesenjangan antar daerah mulai dari sektor ekonomi melalui pembangunan, pelayanan kesehatan dan pendidikan maka angka IPM-nya dapat terus melaju pesat.
Sebagai contoh jika ekonomi suatu daerah membaik dengan pembagunan yang stategis maka hal ini akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sehingga dapat menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan sekaligus. Jika hal ini tertangani maka asupan/ketersediaan makanan utuk setiap rumah penduduk dapat berkecukupan. Jika ketiga hal ini telah tercapai namun tidak di sertai dengan pendidikan dalam hal ini pengetahuan yang baik terkait pengolahan makanan dan pelayanan kesehatan dalam hal ini pemeliharaan kesehatan maka sesungguhnya perbaikan status gizi masyarakat tidak akan tercapai.
Mengingat penyebab gizi kurang terdiri atas penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung gizi kurang adalah makanan tidak seimbang, baik jumlah dan mutu asupan gizinya, di samping itu asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat adanya penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah kurang baiknya pola pengasuhan anak terutama dalam pola pemberian makan pada balita, kurang memadainya sanitasi dan kesehatan lingkungan serta kurang baiknya pelayanan kesehatan.
Maka dari itu sangat di perlukan adanya konsistensi pemerintah dalam hal meningkatkan mutu layanan kesehatan di tingkat layanan primer yang disertai dengan peningkatan promosi kesehatan di tiap-tiap rumah penduduk di berbagai daerah. Perlu kita ketahui bersama bahwa makna promosi kesehatan menurut Green (1984) promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
Lebih sederhananya lagi bahwa Promosi Kesehatan adalah upaya perubahan/perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan, serta peningkatan peran kemitraan yang dilandasi oleh kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat (mutual benefit). Kemitraan ini dikembangkan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor.
Jika penatalaksanaan mulai sektor ekonomi hingga peromosi kesehatan ini berlangsung di berbagai daerah yang ada di Indonesia maka permasalahan menganai Gizi Buruk, AKI (angka Kematian Ibu) dan AKB (angka Kematian bayi) dapat menurun.
Namun permasalahan lain yang saat ini timbul menurut dr. Oryzati Hilman,MS.c,CMFM,Ph.D selaku Pakar Nasional Ilmu Kedokteran Keluarga sekaligus dosen tetap Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengatakan bahwa “AKB (angka kematian bayi) dan AKI (angka kematian Ibu) masih menunjukkan jumlah yang tinggi meskipun terjadi peningktan jumlah spesialist obsgyn di Indoesia. Hal ini di sebabkan pemerintah yang dulunya masih fokus pada layanan sekunder”.
Maka dari itu menurut dokter yang sering di sapa dr. Icha ini sudah saatnya indonesia melakukan pembaharuan dalam hal layanan kesehatan, yang mana layanan kesehatan yang di idam-idamkan adalah perbaikan kualitas dari layanan primer melalu program DLP (dokter Layanan Primer) yang sedang di rintis oleh pemerintah saat ini. Yang mana kompetensinya dianggap jauh lebih mampu mengatasi permasalahn-permasalahan kesehatan yang ada di komunitas. Semoga saja program ini dapat segera terealisasi dan memberi manfaat yang besar dalam pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia.
Dari semua yang telah saya paparkan ini menunjukkan bahwa permasalahn gizi di Indonesia merupakan suatu hal yang kompleks dan tidak bisa membaik tanpa adanya kontribusi dari berbagai element masyarakat. Sebagai Mahasiswa Kedokteran saya hanya ingin berpesan bahwa Satu hal yang perlu di pupuk di dalam hati nurani kita mulai hari ini hingga nanti adalah “Pasien sehat, dokter bahagia”.
Mengapa demikian?, karena salah satu yang menyebabkan penurunan indeks kesehatan masyarakat adalah dokter-dokter yang lebih fokus terhadap kepentingannya sendiri, yang tiada henti mempertebal kantongnya sendiri, yang merasa bahagia di saat kliniknya ramai akan pasien-pasien yang kesakitan. Inilah salah satu contoh dokter-dokter yang pastinya akan menolak jika ditempatkan di desa atau daerah-daerah perifer Indonesia, padahal sesungguhnya pekerjaan dokter tak lain hanyalah tentang sebuah pengabdian.







